Bulan Mei selalu datang dengan cara yang aneh.

Ia tidak sedingin Januari, tidak seramai Desember. Mei seperti seseorang yang duduk diam di sudut ruangan—tidak banyak bicara, tetapi meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan.

Dan setiap Mei datang, Shakira selalu teringat satu hari Jumat yang tidak pernah benar-benar terjadi.

“Jumat depan ketemu yuk.”

Pesan itu muncul pukul 22.13 malam, tepat setelah Shakira selesai merevisi presentasi kantor untuk ketiga kalinya.

Ia membaca nama pengirimnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Ayra.

Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu.

Bukan karena bertengkar.
Bukan karena saling membenci.

Mereka hanya tumbuh menjadi orang dewasa.

Dan orang dewasa, ternyata, sangat sibuk bertahan hidup.

Shakira tersenyum kecil lalu membalas:

boleh. aku kangen cerita.

Tiga titik muncul sebentar.

aku juga.

Sesederhana itu.

Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada drama pertemanan seperti di film-film. Tetapi malam itu Shakira merasa sedikit lebih ringan. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang akhirnya punya tempat untuk pulang.

Dulu mereka dekat sekali.

Jenis persahabatan yang terbentuk bukan karena kesamaan hobi, melainkan karena sama-sama tahu rasanya merasa sendirian.

Mereka bertemu saat kuliah.

Shakira adalah tipe orang yang terlihat tenang di luar, tetapi sebenarnya memikirkan terlalu banyak hal di kepalanya. Sementara Ayra selalu tampak kuat, meski diam-diam mudah lelah menghadapi hidup.

Mereka saling menemukan di masa ketika dunia terasa terlalu besar.

Waktu itu semuanya masih sederhana.

Mereka bisa duduk berjam-jam di warung kopi murah hanya untuk membahas masa depan.

Tentang mimpi.

Tentang ketakutan menjadi dewasa.

Tentang bagaimana mereka yakin hidup akan baik-baik saja selama masih punya satu sama lain untuk mendengar cerita.

Tetapi hidup, rupanya, tidak tumbuh sesuai bayangan dua anak dua puluh tahun.

Seminggu sebelum hari Jumat itu, hidup Shakira terasa berantakan.

Atasannya sedang sulit diajak bicara. Target kantor naik. Ibunya mulai sering sakit-sakitan. Tabungannya habis perlahan untuk hal-hal yang bahkan tidak sempat ia nikmati.

Kadang saat pulang kerja, Shakira duduk lama di motor sebelum masuk rumah.

Bukan karena tidak ingin pulang.

Ia hanya merasa lelah menjadi dirinya sendiri.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal kecil yang terus ia tunggu:

Hari Jumat pada bulan Mei.

Hari ketika ia bisa duduk bersama Ayra dan berkata:

“Aku capek.”

Tanpa perlu terlihat kuat.

Sementara itu Ayra juga sedang tidak baik-baik saja.

Tetapi seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, ia pandai terlihat biasa saja.

Ia tetap membalas pesan dengan “haha”.

Tetap datang bekerja.

Tetap berkata “aku gapapa.”

Padahal beberapa malam terakhir ia bahkan sulit tidur.

Ada terlalu banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana hidupnya.

Kadang ia iri melihat orang-orang yang tampak yakin menjalani hidup. Karena ia sendiri sudah lama merasa seperti orang yang tersesat tetapi terlalu malu untuk bertanya arah.

Namun ia berpikir:

tidak apa-apa. Jumat nanti aku bisa cerita ke Shakira.

Hari Jumat itu akhirnya datang.

Langit mendung sejak pagi.

Shakira bangun dengan kepala berat setelah hanya tidur tiga jam. Di kantor semuanya kacau. Salah satu klien marah besar. Ponselnya terus berbunyi.

Jam makan siang, ia menerima telepon dari rumah.

Ibunya jatuh di kamar mandi.

Dunia terasa berjalan terlalu cepat setelah itu.

Rumah sakit.
Formulir.
Obat-obatan.
Wajah lelah keluarga.

Di sela semua kepanikan itu, Shakira baru sadar hari sudah hampir sore.

Tangannya gemetar saat membuka chat Ayra.

maaf banget. kayaknya aku gak bisa hari ini.

Pesan itu terkirim pukul 17.42.

Tidak lama kemudian Ayra membalas.

gapapa. kita atur lagi nanti ya.

Shakira membaca pesan itu sambil duduk di kursi rumah sakit yang dingin.

Ia mengetik:

janji ya.

Tetapi sebelum sempat terkirim, namanya dipanggil perawat.

Dan malam itu berlalu begitu saja.

Mereka tidak pernah benar-benar mengatur ulang pertemuan itu.

Awalnya hanya tertunda seminggu.

Lalu sebulan.

Lalu hidup mulai bergerak terlalu jauh.

Ayra pindah kerja ke kota lain. Shakira semakin sibuk mengurus rumah dan pekerjaannya. Chat mereka berubah menjadi:

“happy birthday”
“semangat ya”
“jaga kesehatan”

Singkat. Sopan. Jauh.

Padahal dulu mereka saling mengetahui isi kepala satu sama lain hanya dari cara mengetik.

Ada hubungan-hubungan yang tidak hancur karena pertengkaran.

Mereka hanya pelan-pelan hilang karena waktu.

Karena lelah.

Karena dunia orang dewasa terlalu penuh hal yang harus diprioritaskan.

Dan yang paling menyedihkan adalah:
kadang tidak ada yang salah dari siapa-siapa.

Tahun-tahun berlalu.

Suatu sore di bulan Mei, Shakira melewati sebuah kafe kecil sepulang kerja.

Hujan baru saja turun.

Orang-orang duduk bercengkerama di balik jendela kaca sambil tertawa kecil.

Entah kenapa dadanya terasa sesak.

Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu yang selama ini tersimpan diam-diam di sudut hidupnya:

Hari Jumat itu.

Hari yang mereka kira bisa diulang kapan saja.

Shakira berdiri cukup lama di depan lampu merah.

Usianya kini tiga puluh tahun.

Dan akhirnya ia mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar ia pahami:

Manusia tidak selalu kehilangan karena perpisahan besar.

Kadang kehilangan datang sebagai pertemuan yang terus ditunda sampai semesta diam-diam menutup pintunya.

Ponselnya bergetar pelan.

Sebuah notifikasi lama muncul dari fitur kenangan foto.

Foto dirinya dan Ayra bertahun-tahun lalu.

Duduk di warung kopi murah dekat kampus. Tertawa tanpa tahu hidup akan menjadi seberat ini.

Shakira tersenyum kecil.

Lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berbisik pelan pada dirinya sendiri:

“Kita memang tidak bertemu di hari Jumat pada bulan Mei.
Tapi terima kasih pernah hadir di hidupku.”


——

Ditulis berdasarkan ide dan cerita original penulis, dengan bantuan AI sebagai writing assistant.